Dilihat secara global terlebih dulu, sulawesi munculnya bukan karena sulawesi itu memang ada, seperti pulau jawa ataupun sumatra. Sulawesi muncul karena adanya proses epirogenesa negatif, yang maksudnya karena pengangkatan batuan di dasar laut dan menurunnya lautan. Yang berakibat munculnya pulau sulawesi.
Dan karena proses itulah, gorontalo dikelilingi oleh gunung kapur. Tak heran pula Gorontalo beriklim panas tropis yang panasnya menyengat kulit. Maka disetiap tempat tertutup di gorontalo, misalkan kantor, ruang sekolah, dan lainnya terdapat AC. Karena memang sangat dibutuhkan dan sangat membantu pekerjaan atau kegiatan.
Juga ada yang lucu dengan tradisi jadwal dagang di Gorontalo, apabila hari sudah mulai siang sekitar jam 12 siang, banyak toko yang tutup karena hari sudah mulai panas. Para pedagang juga banyak yang tutup saat di hari libur. Padahal logikanya, akan banyak pembeli saat hari libur, hal ini sungguh berbeda dengan teori mereka kebanyakan.
Hal tersebut dikarenakan, taraf hidup di gorontalo masih sangat tinggi, lapangan pekerjaan masih sangat banyak, berbeda dengan di jawa karena di Gorontalo jumlah lapangan kerja masih sangat banyak dikarenakan jumlah penduduk yang masih minim, maka mereka dalam mengais rejeki tidak terlalu bekerja keras karena standartnya, dengan usaha mereka yang tidak sebegitu besar dibandingkan usaha orang jawa misalnya, mereka sudah mendapatkan hasil yang besar.
Maka, taraf hidup suatu wilayah juga menyebabkan timbulnya tradisi yang berbeda dengan yang lain. Gorontalo dengan taraf hidup tinggi, memunculkan tradisi tertentu yang berbeda dengan taraf hidup di Jawa yang tentunya perjuangannya lebih besar dibandingkan di Gorontalo.
Asal Usul Kebudayaan Tumbilotohe
Adapun tradisi tumbilotohe yakni tradisi pasang lampu atau menyalakan lampu, merupakan tradisi yang diilakukan oleh orang-orang terdahulu Gorontalo saat penghujung bulan suci ramadhan. Mereka menyalakan lampu minyak di depan rumah mereka guna menerangi jalan menuju masjid.
Seperti diketahui bersama, bahwa pada zaman belum adanya lampu di desa, warga menggunakan lampu minyak sebagai penerang. Oleh karenanya, pada saat malam-malam penghujung ramadhan para warga gorontalo, yang di sana masih belum adanya penerangan berupa lampu elektrik. Mereka menyalakan lampu minyak di depan rumah-rumah mereka guna membantu penerangan bagi orang-orang yang akan menuju mesjid untuk menunaikan ibadah di bulan suci romadhon, seperti terawih, takbiran ataupun i’tikaf di masjid.
Kebudayaan tumbilotohe secara terus menerus dibudayakan oleh warga Gorontalo saat menjelang bulan romadhon hingga kini. Meskipun sebenarnya hal itu sudah tidak perlu lagi dilakukan. Bila dilihat dari tujuan dilaksanakannya tumbilotohe yang dahulu yakni guna menerangi jalan para warga yang akan beribadah ke masjid, sekarang seharusnya sudah tidak perlu, karena di sepanjang jalan sekarang ini telah diterangi oleh lampu yang sudah sangat membantu penerangan.
Tradisi Wajib Makan saat Lebaran
seperti tradisi lebaran di wilayah lain, di Gorontalo setelah melaksanakan sholat idul fitri mereka halal bi halal yang dimulai dari keluarga dekat, para tetangga kemudian para kerabat jauh.
Adapun tradisi unik di Gorontalo saat lebaran yakni, apabila kita pergi ke tempat tetangga kita, misalkan. Kita pasti akan dipersilahkan untuk makan. Tidak hanya disuguhi makanan ringan layaknya di Jawa. Di Gorontalo, semua tamu harus merasakan makanan yang tersedia di rumah tersebut meskipun hanya sesendok, begitu ibaratnya.
Sehingga, berlebaran di Gorontalo tentunya membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan di jawa yang hanya memberikan suguhan makanan ringan. Juga, bila berlebaran di sana, kita sebagai pengunjung rumah-rumah akan merasakan kenyang yang teramat sangat. Bagaimana tidak, pada tiap kunjungan kita akan dihidangi makanan yang pastinya kita diharuskan untuk mencicipi makanan tersebut.
Hari Raya Ketupat kampung Jawa
Di Gorontalo juga ada tradisi kupatan, seperti halnya daerah yang lainnya. Tapi ada yang lain dengan tradisi di Gorontalo, pada saat hari raya ketupat yang membedakan dengan hari raya ketupat di daerah-daerah yang lain. Di jawa misalnya, jika hari raya ketupat tradisinya membagi-bagi ketupat kepada para tetangga. Tapi beda halnya dengan hari raya ketupat di Gorontalo.
Saat hari raya ketupat tiba, tepatnya seminggu setelah hari raya idul fitri, banyak dari warga Gorontalo akan berbondong-bondong pergi ke kampung jawa. Kampung jawa adalah tempat dimana di sana terkumpul warga yang kebanyakan pendatang dari jawa. Dan di sanalah hari raya ketupat di rayakan, banyak warga Gorontalo yang berbondong-bondong datang ke perkampungan itu untuk menikmati makanan khas kampung jawa. Nama makanannya nasi bulu, hanya di buat di saat hari raya ketupat, juga hanya di kampung jawa.
Semua orang dari segala wilayah Gorontalo berbondong-bondong ke sana untuk merayakan hari raya ketupat. Meskipun mereka tidak ada keluarga ataupun kerabat di sana, mereka bisa bebas berkunjung ke salah satu rumah penduduk di sana. Karena, tiap warga di kampung jawa itu mempersilahkan orang-orang untuk menikmati hidangan, meskipun mereka tidak dikenal. Semua warga warga di kampung jawa open house atas rumahnya dan juga pastinya akan menghidangkan makanan khas nasi bulu secara cuma-cuma.
Nasi bulu ini khusus dibuat di kampung jawa, karena memang hanya warga kampung jawalah yang paling mengerti dalam memproduksi makanan nasi bulu ini. Kalaupun ada wilayah lain yang bisa membuat nasi bulu, rasanya tidak akan sekhas buatan nasi bulu warga kampung jawa. Padahal, bahan-bahan untuk membuat nasi bulu hanya biasa saja. Hanya beras yang di masak dalam bambu. Tapi memang sepertinya kampung jawa punya keahlian tersendiri dalam membuat nasi bulu.
Atau, jika tidak demikian, ini memang sudah menjadi tradisi mulai terdahulu untuk selalu mengunjungi kampung jawa saat hari raya ketupat. Karena memang sudah dari dulu, di sanalah pusat perayaan hari raya ketupat.
Dahulu, memang yang mengawali adanya acara hari raya ketupat memang dimulai dari kampung jawa. Jadi warga kampung jawa akan mengundang semua kenalan mereka untuk berkunjung ke rumah mereka yang ada di kampung jawa. Dan dihidangkan makanan khas nasi bulu yang memang berasal dari kampung jawa.
Hal inilah yang membuat hari raya ketupat di Gorontalo berbeda dengan di wilayah yang lain. Karena adanya kampung jawa yang khas dengan open housenya juga makanan khasnya,yakni nasi bulu.
No comments:
Post a Comment